Menjaga Warisan di Tengah Birunya Laut: Festival Pulau Labuan Bajo Hidupkan Kembali Seni Tradisional Empat Etnis

Peringatan HUT ke-22 Provinsi Sulawesi Barat

LABUAN BAJO // Nusantarapress.com — Di tengah pesona pariwisata Labuan Bajo yang kian mendunia, denyut kebudayaan lokal di wilayah kepulauan Manggarai Barat kini menemukan ruang hidupnya kembali. Melalui rangkaian workshop seni dalam Festival Pulau, upaya pelestarian warisan leluhur digelorakan untuk merangkul generasi muda agar tidak asing dengan akar budaya mereka sendiri. Kegiatan inspiratif ini digagas oleh seniman muda Priscilian Denvisia Vebriosa, atau yang akrab disapa Cici, sebagai wujud nyata kepedulian terhadap kelangsungan tradisi masyarakat kepulauan.

Namun, perjalanan menuju terselenggaranya acara ini tidaklah selalu mulus. Semula, kegiatan yang dipusatkan di Pulau Longos ini dijadwalkan berlangsung pada Februari 2026. Kendati demikian, faktor alam berkata lain; intensitas hujan yang tinggi, angin kencang, hingga gelombang laut yang cukup besar memaksa panitia untuk menjadwalkan ulang agenda tersebut demi keamanan bersama hingga akhirnya sukses digelar pada Juli 2026.

Keputusan penundaan tersebut diambil bukan tanpa alasan yang matang. Sebelumnya, tim panitia telah melakukan observasi langsung ke sejumlah wilayah pulau dan sempat menghadapi tantangan berat akibat kondisi gelombang laut yang kurang bersahabat. Berbekal pertimbangan keselamatan yang ketat, pelaksanaan pada Juli 2026 akhirnya berjalan lancar dengan membawa semangat membara untuk mendekatkan seni tradisional kepada anak-anak muda di pulau.

Sebagai panggung keragaman, workshop ini menampilkan berbagai kesenian lintas budaya yang memukau. Tercatat ada Tari Pamancak asal Bima dan Sulawesi Selatan, serta ragam kekayaan seni khas Manggarai seperti Tiba Meka, Rangkuk Alu, dan Caci yang ikonik. Tidak ketinggalan, kesenian khas masyarakat Suku Bajo juga turut dihadirkan, merangkum total empat kelompok etnis besar—Bugis, Bima, Manggarai, dan Bajo—dalam satu harmoni kebudayaan.

Keberagaman etnis ini menjadi daya tarik utama yang membuat Festival Pulau memiliki nilai strategis yang berimbang. Di sini, seni tidak sekadar diposisikan sebagai tontonan hiburan semata, melainkan sebagai proses edukasi mendalam agar peserta dapat memahami gerak, nilai, serta latar historis dari setiap tradisi yang dipelajari. Dengan demikian, estafet pelestarian budaya diharapkan tidak berhenti pada satu generasi saja.

Di balik kesuksesannya, program ini merupakan bagian dari inisiatif Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan tahun 2025 yang realisasinya dilangsungkan pada tahun 2026. Dukungan pendanaan ini menjadi angin segar bagi para pelaku seni berbasis masyarakat untuk terus berkarya. Meski demikian, pelaksanaannya di wilayah kepulauan tetap menyisakan catatan tersendiri, terutama terkait tantangan geografis berupa akses transportasi antarpulau dan faktor cuaca yang dinamis.

Priscilian Denvisia Vebriosa sendiri merupakan sosok seniman yang konsisten mengabdikan diri untuk perkembangan seni di Labuan Bajo. Melalui Festival Pulau, ia berhasil merajut keragaman identitas dari berbagai suku di Manggarai Barat ke dalam satu ruang temu yang edukatif. Pada akhirnya, di tengah laju pesat pariwisata modern, inisiatif ini membuktikan bahwa keberlanjutan seni tradisional adalah kunci agar kekayaan jiwa masyarakat kepulauan tetap tumbuh, lestari, dan diwariskan dari masa ke masa.