Dari Juru Kunci ke Tuntas Madya: Ketika Kepala Sekolah Dipaksa Melek Data

Takalar, Nusantarapress Com-

Oleh: Imran, Kepala UPT SDN 166 Inpres Bontorita

Setahun lalu, pendidikan di Kabupaten Takalar berada pada posisi yang tidak membanggakan. Dalam peta pendidikan Sulawesi Selatan, daerah ini berada di peringkat dua terbawah dalam capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Bagi kami para kepala sekolah, fakta tersebut tidak sekadar angka statistik. Itu adalah cermin dari sistem pendidikan yang belum berjalan optimal.

Jujur saja, kondisi itu sempat menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan malu. Namun justru dari titik itulah perubahan mulai bergerak.

Perubahan itu datang dari sebuah langkah yang mungkin sederhana, tetapi berdampak besar.

Suatu waktu, Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye, mengumpulkan seluruh kepala sekolah. Instruksinya terdengar sederhana, tetapi tidak biasa: kepala sekolah diminta datang sendiri tanpa membawa operator sekolah.

Bagi sebagian orang, itu mungkin hal kecil. Namun bagi kami, itu adalah momen yang cukup menegangkan.

Selama ini, urusan data pendidikan sering kali dianggap sebagai wilayah operator sekolah. Kepala sekolah lebih banyak fokus pada administrasi dan kegiatan operasional sehari-hari.

Namun dalam pertemuan itu, beberapa kepala sekolah diminta mempresentasikan hasil Rapor Pendidikan sekolahnya masing-masing.
Di situlah realitas terlihat jelas.

Masih ada kepala sekolah yang belum sepenuhnya memahami data sekolahnya sendiri. Bahkan ada yang belum terbiasa membuka dan membaca laporan Rapor Pendidikan secara mandiri.

Situasi itu menjadi tamparan bagi kami semua.
Bupati Takalar kemudian menyampaikan pesan sederhana tetapi sangat mendasar: bagaimana mungkin sekolah bisa maju jika pemimpinnya sendiri tidak memahami data yang menjadi dasar pengambilan keputusan?

Pesan tersebut menohok, tetapi justru itulah yang dibutuhkan.

Selama ini kita sering berbicara tentang peningkatan mutu pendidikan, tetapi lupa bahwa perubahan tidak akan terjadi tanpa kepemimpinan yang memahami masalah secara nyata.

Rapor Pendidikan sebenarnya bukan sekadar laporan tahunan. Di dalamnya tersimpan peta kondisi sekolah: capaian literasi, kemampuan numerasi, hingga kualitas lingkungan belajar.

Jika data tersebut tidak dibaca dan dipahami oleh kepala sekolah, maka sekolah berjalan tanpa arah yang jelas.

Momentum itulah yang kemudian mendorong perubahan budaya di sekolah-sekolah Takalar.

Dinas Pendidikan melalui para pengawas mulai melakukan pendampingan yang lebih intensif. Kepala sekolah didorong untuk memahami indikator literasi, numerasi, serta berbagai aspek dalam Rapor Pendidikan.

Diskusi tentang data mulai menjadi hal yang biasa di sekolah.

Kami mulai belajar melihat masalah pendidikan secara lebih objektif, bukan sekadar berdasarkan asumsi.

Perlahan, perubahan cara berpikir itu berdampak pada cara sekolah merencanakan program.

Penyusunan anggaran melalui ARKAS misalnya, tidak lagi sekadar rutinitas administratif.

Perencanaan mulai disusun berdasarkan kebutuhan nyata yang terlihat dalam data pendidikan.

Guru juga mulai terbiasa melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran yang berlangsung di kelas.

Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam waktu singkat, tetapi proses tersebut membangun fondasi baru dalam tata kelola pendidikan di sekolah.

Hasilnya mulai terlihat pada capaian terbaru pendidikan Takalar.

Kabupaten ini berhasil melonjak ke peringkat pertama dalam kategori Tuntas Madya pada capaian Standar Pelayanan Minimal pendidikan.

Bagi kami di sekolah, capaian ini bukan sekadar prestasi administratif.

Di balik angka itu, ada perubahan nyata yang mulai terasa.

Kemampuan literasi dan numerasi siswa meningkat. Lingkungan belajar menjadi lebih aman dan inklusif. Guru semakin terbiasa mengevaluasi metode pembelajaran mereka.

Yang tidak kalah penting, kepala sekolah kini mulai lebih akrab dengan data.

Perubahan ini menunjukkan satu hal penting: reformasi pendidikan tidak selalu dimulai dari kebijakan yang rumit.

Kadang, perubahan justru dimulai dari langkah sederhana-memaksa para pemimpin sekolah untuk memahami kondisi sekolahnya sendiri.

Takalar pernah berada di posisi yang tidak membanggakan dalam peta pendidikan Sulawesi Selatan.

Namun pengalaman setahun terakhir menunjukkan bahwa perubahan selalu mungkin terjadi jika ada keberanian untuk mengakui masalah dan kemauan untuk memperbaikinya.

Kini tantangan berikutnya adalah menjaga momentum tersebut.

Sebab peningkatan mutu pendidikan bukanlah pekerjaan yang selesai dalam satu tahun, melainkan proses panjang yang membutuhkan konsistensi.

Bagi kami para kepala sekolah, pelajaran terpenting dari perjalanan ini adalah satu hal: pendidikan tidak bisa dibangun tanpa kepemimpinan yang memahami data.

Karena pada akhirnya, data bukan sekadar angka.
Ia adalah peta yang menunjukkan ke mana pendidikan harus berjalan

.(*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*