Makassar// Nusantarapress.con – Industri perfilman daerah kembali menunjukkan taringnya di kancah nasional. Sanggar Seni Ataraxia secara resmi menggelar proses audisi atau casting pemeran untuk film terbaru mereka yang bertajuk Tulolo: Mimpi Perempuan Makassar. Langkah awal produksi ini dirancang khusus untuk menjaring talenta-talenta lokal yang tidak hanya piawai dalam seni peran, tetapi juga memiliki kedekatan emosional serta pemahaman mendalam terhadap akar kultur masyarakat Makassar.
Antusiasme masyarakat terhadap proyek seni ini terbukti sangat tinggi sejak pertama kali diumumkan. Tercatat sekitar 50 peserta antusias mendaftarkan diri secara daring. Setelah melalui penyaringan yang ketat, para peserta yang dinyatakan lolos seleksi administrasi langsung ditantang untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka dalam tahapan casting tatap muka di hadapan tim penguji.
Proses pencarian bakat ini dipimpin langsung oleh sutradara film Tulolo: Mimpi Perempuan Makassar, Amin DB. Tidak sendirian, ia didampingi oleh Ryaasanti Fany Faisal, seorang praktisi seni kompeten lulusan Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Keduanya berkolaborasi secara objektif dalam menilai aspek kemampuan akting, ekspresi wajah, penghayatan karakter, hingga kecocokan natural peserta dengan tokoh yang tertulis di dalam naskah.
Sutradara Amin DB mengungkapkan bahwa film ini membawa misi besar untuk mengangkat kisah perjuangan dan cita-cita perempuan Makassar. Oleh karena itu, pemilihan pemeran menjadi fondasi krusial agar pesan dan emosi cerita tersampaikan secara autentik. “Melalui casting langsung ini, kami ingin menemukan karakter yang tidak hanya pandai berakting, tetapi juga mampu mengalirkan jiwa, rasa, dan kultur Makassar yang autentik ke dalam layar lebar,” ujar Amin DB penuh harap.
Di balik layarnya, proyek idealis ini berhasil mendapat apresiasi tinggi dari pemerintah pusat. Film Tulolo: Mimpi Perempuan Makassar sukses menjadi salah satu karya yang memperoleh dukungan Bantuan Dana Indonesiana Tahun 2026 dari Kementerian Kebudayaan. Kehadiran stimulus ini diharapkan menjadi motor penggerak dan motivasi besar bagi para pelaku sinema daerah untuk terus melahirkan karya berkualitas, sekaligus memperkuat ekosistem perfilman lokal agar semakin mandiri dan berkembang pesat.
Bagi Sanggar Seni Ataraxia, produksi film ini bukan sekadar hiburan komersial, melainkan media strategis untuk memperkenalkan kekayaan budaya Makassar kepada khalayak luas. Film ini diproyeksikan mampu menyajikan perspektif segar mengenai perempuan Makassar dalam balutan cerita yang edukatif dan sarat akan nilai-nilai luhur budaya setempat.
Pasca rampungnya seluruh rangkaian casting, tim produksi tidak ingin membuang waktu dan akan segera melangkah ke tahap pembacaan naskah (reading) bersama aktor dan aktris terpilih. Setelah itu, persiapan teknis yang matang akan dilakukan sebelum kamera resmi bergulir untuk syuting utama. Pihak Sanggar Seni Ataraxia pun mengajak masyarakat luas untuk ikut mengawal dan memperbarui informasi perkembangan produksi film ini melalui kanal media sosial resmi mereka.

Leave a Reply