Takalar– Nusantarapress.Com– Sulsel – Harapan besar para petani di Kabupaten Takalar untuk menikmati aliran air yang lancar dari jaringan Irigasi Daerah Irigasi (D.I.) Pamukkulu tampaknya masih harus tertahan.
Proyek strategis nasional yang menelan anggaran fantastis senilai Rp29.826.844.000 dari APBN Tahun Anggaran 2025 tersebut kini menjadi sorotan warga setempat karena diduga belum tuntas meski masa pelaksanaan pekerjaan dikabarkan telah berakhir.
Proyek di bawah naungan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang ini digarap oleh kontraktor pelaksana PT Jaya Etika Beton.
Cakupan pekerjaannya membentang di dua kecamatan, yakni Polongbangkeng Selatan dan Mangarabombang.
Fakta Lapangan, Kilometer Saluran Masih Berupa Tanah
Berdasarkan pantauan di lapangan serta dokumentasi yang dihimpun, sejumlah titik jaringan irigasi di Kelurahan Canrego, Kelurahan Pa’bundukang, dan Desa Cakura, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, masih menyisakan pekerjaan rumah yang besar.
Saluran yang seharusnya kokoh dengan konstruksi pasangan batu, di beberapa titik terlihat masih berupa galian tanah terbuka.
Keluhan ini disuarakan langsung oleh perwakilan warga yang juga mengawal jalannya pembangunan infrastruktur di desa mereka.
“Kurang lebih masih ada sekitar 3,5 kilometer yang belum dipasang batu. Salurannya sudah digali, tetapi belum dilanjutkan ke pekerjaan pasangan,” ungkap Dg. Ronrong, salah seorang warga Polongbangkeng Selatan, Minggu (28/6/2026).
Dg. Ronrong merincikan, estimasi area yang belum rampung tersebar di beberapa titik:
Kelurahan Canrego & Pa’bundukang: Kurang lebih sekitar 2 kilometer belum selesai.
Desa Cakura: Diperkirakan sekitar 500 meter masih dalam kondisi galian tanah.
Kondisi ini memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Beberapa warga bahkan menyayangkan lambatnya progres ini dan menilai pihak pelaksana kurang memprioritaskan kebutuhan vital para petani yang sangat bergantung pada musim tanam.
Harapan Petani
Jangan Sampai Anggaran Besar Jadi Sia-Sia
Bagi masyarakat agraris di Takalar, air adalah urat nadi perekonomian. Kekecewaan warga didasari oleh kekhawatiran akan asas manfaat dari proyek puluhan miliar ini.
“Kami para petani sangat berharap pekerjaan ini segera dituntaskan agar manfaatnya bisa dirasakan secara nyata. Jangan sampai anggaran yang begitu besar sudah dikucurkan, tetapi hasilnya tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal,” tegas Daeng Rate, salah satu petani setempat.
Upaya Konfirmasi dan Keseimbangan Berita
Demi menjaga keberimbangan informasi, upaya konfirmasi telah dilakukan kepada pihak kontraktor pelaksana.
Namun, hingga rilis berita ini diterbitkan, perwakilan dari PT Jaya Etika Beton, Deni, belum memberikan respons atau keterangan resmi terkait kendala teknis maupun status adendum (perpanjangan waktu) jika ada dalam proyek tersebut.
Masyarakat kini menaruh harapan besar kepada BBWS Pompengan Jeneberang selaku pengawas dan penanggung jawab program, serta instansi terkait untuk segera melakukan evaluasi ke lapangan.
Pengawasan yang ketat sangat dibutuhkan guna memastikan proyek infrastruktur negara ini diselesaikan sesuai spesifikasi teknis demi kesejahteraan masyarakat petani di Kabupaten Takalar.
(Tem med red)

Leave a Reply