Sikap Arogan Oknum Kasi Pemerintahan Desa Su’rulangi Takalar Menuai Sorotan, Sebut Media Abal-Abal Saat Dikonfirmasi

Takalar// Nusantarapress.com – Jagat media sosial dan grup WhatsApp kalangan jurnalis di Kabupaten Takalar mendadak dihebohkan dengan beredarnya sebuah rekaman suara berdurasi 2 menit 56 detik pada hari Selasa (30/6/2026). Rekaman tersebut memperlihatkan percakapan bernada tinggi dan diduga arogan yang dilontarkan oleh inisial (MA)Kepala Seksi (Kasi) Pemerintahan Desa Su’rulangi, Kecamatan Polombangkeng Selatan, Kabupaten Takalar.

Sikap tidak bersahabat ini terjadi saat seorang awak media dari jejakkasus.site mencoba melakukan konfirmasi terkait rencana penerbitan surat hibah tanah di desa tersebut.

Adapun ketegangan bermula ketika jurnalis jejakkasus.site mencoba menjalankan fungsi kontrol sosial secara persuasif guna meminta kejelasan mengenai rumor penolakan salah satu anggota keluarga ahli waris terkait surat hibah yang akan diterbitkan. Bukannya mendapatkan jawaban yang edukatif dan informatif selaku pejabat publik, wartawan justru dihujani respons defensif. Oknum Kasi Pemerintahan tersebut berulang kali mendesak diperlihatkan fisik dokumen penolakan dengan nada bicara yang meninggi, meski sang wartawan sudah menjelaskan dengan kepala dingin bahwa dirinya baru dalam tahap konfirmasi awal demi keberimbangan berita.

Di tengah perdebatan tersebut, situasi semakin memanas ketika oknum pejabat desa itu melontarkan kalimat yang dinilai mencederai profesi jurnalisme secara umum. Dengan nada meremehkan, ia menepis ruang konfirmasi dengan membawa-bawa kredibilitas media.

“Ah! Media resmi saja saya tidak takut, apalagi media abal-abal kayak kamu semua itu,” ketus Kasi Pemerintahan Desa Su’rulangi di dalam rekaman tersebut. Ucapan ini sontak memicu kecaman luas karena dianggap sebagai bentuk pelecehan terhadap kemerdekaan pers yang dilindungi undang-undang.

Di sisi lain, jika dicermati dari rekaman yang sama, oknum Kasi Pemerintahan tersebut sebenarnya sempat memberikan pembelaan dan klarifikasi substansial sebelum emosinya terpancing. Ia menegaskan bahwa pihak pemerintah desa tidak akan berani menerbitkan surat hibah jika dokumennya tidak lengkap. Ia juga mengklaim bahwa seluruh ahli waris yang bersangkutan, termasuk nama yang dipertanyakan oleh wartawan, sudah membubuhkan tanda tangan resmi. Menurutnya, prosedur yang dijalankan oleh pihak desa sudah berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku.

Merespons tekanan verbal dan kalimat merendahkan dari sang pejabat desa, jurnalis jejakkasus.site memilih tidak memperpanjang perdebatan di telepon dan menutup komunikasi dengan sikap profesional yang tenang. “Oh, begitu, Pak? Terima kasih, Pak. Oke, sekian,” ujar wartawan mengakhiri sambungan telepon.

Hingga berita ini diturunkan, rekaman suara tersebut terus menuai solidaritas dari berbagai organisasi pers yang mendesak Kepala Desa Su’rulangi maupun Pemerintah Kabupaten Takalar untuk mengevaluasi etika komunikasi aparaturnya saat berhadapan dengan pekerja media.(*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*